Bersepeda Depok-Sulawesi tiap hari, Demi Proyek Kebahagian di Sulawesi

Sekilas dengan nama Jangandiamterus Backpacker memberi kesan bahwa kita manusia perlu untuk bergerak, serta jangan membuang waktu untuk tidak melakukan apapun. Bisa jadi, sebagian orang juga mendapat kesan tersebut dengan nama Jangandiamterus Backpacker. Namun, memang Jangandiamterus backpacker bisa dikatakan selaras dengan nama yang disandangnya, tidak diam saja dan melakukan perjalanan, bercerita, dan melakukan kebaikan dalam prosesnya. 

Mengulas balik di tahun 2020  ketika pandemi merupakan hal asing yang datang mendadak, sehingga membuat gerak semua orang terbatas dan sebagian banyak terlena dan tak melakukan apa-apa, berbeda dengan tim Jangandiamterus Backpacker yang melakukan perjalanan hebat keliling Pulau Sulawesi dari Depok dengan gowes setiap hari. Tentu saja, tetap menerapkan protokol kesehatan dalam setiap perjalannya.

Perjalanan bermakna ini diberi judul Pelan Tapi Gowes oleh tim Jangandiamterus Backpacker yang beranggotakan 7 manusia tangguh, yakni Matteo, Jon, Andy Ocol, Bowo, Rafii, Fajrin dan Riko. Tujuh manusia ini mengawali Pelan Tapi Gowes di Omah jangandiamterus Backpacker yang berada di Depok, tepatnya di Jl. Kp. Ratu Jaya No 59, Rt 4/RW 5, Ratu Jaya, Kecamatan Cipayung Kota Depok, Jawa Barat. Omah Jangan Diam Terus merupakan rumah singgah yang diperuntukkan untuk siapa saja baik yang sedang melakukan perjalanan serta ingin istirahat sejenak, dan tentu saja tak perlu risau karena  gratis. Selain gratis, banyak kegiatan yang diselenggarakan salah satunya yakni kegiatan workshop kerajinan tangan.

Kenapa Bisa Sih, Depok-Sulawesi tapi pakai sepeda dan gowes tiap hari

Dari ketujuh manusia dalam perjalanan panjang ini, bahkan yang menariknya adalah mereka bukan pesepeda handal. Maksudnya, ada yang masih belum bisa oper dan pindah gigi. Namun hal ini diacuhkan dan menjadi bisa selama perjalanan. Memang, Learning by Doing menjadi konsep andalan mereka. Tanpa perlu pikir panjang, namun ketika sudah ada keinginan langsung eksekusi dan jalankan.

Lalu, bagaimana perjalan ini bermula? Pelan Tapi Gowes ini merupakan salah satu ide dari Rafi yang suka dan terbiasa melakukan backpacking. Pada suatu kesempatan ia terpikir dan “iseng” untuk memulai perjalanan dengan bersepeda. Namun, ternyata banyak karibnya yang tertarik dan ingin ikut sehingga  mereka  sepakat dan menentukan perjalanan Pelan Tapi Gowes ini. 

“Lalu kenapa Sulawesi?” adalah pertanyaan umum karena masih banyak pulau di Indonesia yang indah dan tak terlalu jauh dibandingkan Sulawesi. Namun, perjalanan ke Sulawesi sana bukan hanya ingin menikmati perjalanan dari gowesnya saja, tapi juga untuk belajar. Hal yang mereka pelajari dan juga lakukan yakni berkaitan dengan kopi, kuliner, arsitektur dan menjalankan program cukur rambut, street feeding, dan mendongeng. Kegiatan mereka memang diisi dengan hal menarik dan bermanfaat, bahkan saking menikmatinya mereka dalam perjalanan, yang awalnya berencana 1-2 bulan, ternyata menghabiskan waktu 6 bulan untuk kembali di titik semula, yakni Omah Jangan Diam Terus Backpacker, di Depok.

Fakta Menarik...

Mengulas hal menarik dari perjalanan ini adalah, bahwa mereka adalah pertama kalinya melakukan perjalanan sejauh ini. Gowes ini seperti sebelumnya, bukan sekedar gowes namun juga belajar kuliner, rumah singgah, arsitek, rumah-rumah Toraja, dan rumah tradisional sulawesi. Selain belajar, paling menarik yakni dengan uang yang mereka bawa, siapa sangka modal untuk perjalanan ini yakni dengan uang 100-500 ribu per orang. Memang, tak perlu menyewa hotel karena selalu melewati hutan, aspal, daratan, apalagi pantai bisa menjadi tempat tinggal.

Membayangkan perjalanan jauh mereka dari Depok ke Sulawesi, pun kita pasti sudah tahu begitu lelah. Namun, mereka bisa memaknainya dengan berbeda yakni meski gowes membuat cape diri sendiri tapi itu adalah kebahagian diri sendiri, begitulah mereka. Bisa mendapatkan pengalaman baru, cerita baru, dan ilmu baru. Namun disisi lain, setiap pengalaman baru dengan orang baru, selalu ada duka perpisahan yang menyelip karena mereka harus berpisah dan melanjutkan perjalanan. 

Namun, tentu saja ada kisah yang lebih menarik untuk diceritakan selain kisah di atas. Untuk lebih lengkapnya, simak wawancara eksklusif dari tim StayCool kepada Tim Pelan Tapi Gowes berikut ini.

Hai selamat sudah sampai dengan sehat kembali. Sebelumnya, boleh perkenalkan tim Jangandiamterus Backpacker yang mengikuti ekspedisi pelan tapi gowes?

Hallo StayCool, terima kasih ya. Oke, ijinkan kami memperkenalkan diri. Jadi tim yang mengikuti bersepeda keliling Sulawesi #PelanTapiGowes itu ada Matteo, Jon, Andy Ocol, Bowo, Rafii, Fajrin dan Riko.

Bisa kasih tahu kepada pembaca, apa sih pelan tapi gowes. Dari alasan keberangkatan dan kenapa memilih Sulawesi sebagai destinasi?

Berangkat dari Studio kecil, yang bernama Omah JanganDiamTerus kegiatan PelanTapiGowes terbentuk. Tentang perjalanan bersepeda selama 6 bulan mengelilingi Pulau Sulawesi. Kuliner, Kopi, Arsitektur adalah pondasi awal untuk ketujuh anak muda ini belajar.

Bukankah rencana awal gowes ini butuh waktu 2 bulanan, tapi ketika di lapangan ternyata lebih lama. Boleh diceritakan alasan di balik itu?

Oh iya benar sekali! Hahahaha... awalnya sih kami hanya ingin 2 bulan. Tetapi ketika di lapangan itu semua berubah. Bahkan rute yang udah kami titikin semuanya menjadi tidak terpakai. Karena alasan kami adalah belajar. Disaat kami gowes di awal kami mengejar waktu atau kilometer, hanya saja itu ternyata tidak menyenangkan untuk kami. Kami tidak bisa menikmati lokalitasnya. Nah, karena diawal kami ingin belajar jadi kami harus temui hal-hal yang masih dalam akar kami sendiri.

Perjalanan gowes ini kan jauh sekali. Boleh ceritakan pada pembaca dari segi perencanaan secara teknik maupun fisik?

Hihihihih jujur aja ya ini lumayan agak enggak masuk akal, karena diantara ketujuh ini, kami semua enggak ada yang bener-bener mengerti teknik sepeda. Hanya beberapa hal yang kami tahu. Sisanya biarin semesta mengejutkan dengan caranya sendiri haha. Untuk fisik, pernah sekali nyobain sepedahan ke Cilegon nganter temen kami yang Wisuda. Terus latihan gowes kerumah gebetan, juga latihan fisik kak ^_^ hihihi.

Oh iya, agar ada gambaran, kemana saja sih kota-kota yang teman tuju? 

Lumayan cukup hampir semuanya kami singgahi. Darimulai Makassar, Gowa, Bantaeng, Takalar, Jeneponto, Bulukumba, Sinjai, Watampone, terus sampai ke Tenggara, Tengah dan Utara.

Saat melakukan perjalanan adakah cerita yang sangat mengena dihati? Misalnya dari segi kebudayaan dan orang, atau bisa juga cerita mengenai hambatan yang dilalui

Waahhh banyak sekali. Kayanya hampir setiap tempat mengena dihati. Secara kekeluargaan, budaya dan orang-orang yang kami temui sepanjang perjalanan ini. Rasa-rasanya kalo ditanya soal ini, semua pikiran kami saat berada di Sulawesi kembali terngiang-ngiang di kepala. Orang-orang yang udah begitu rela untuk menempatkan kami pada posisi kekeluargaan. Kalau hambatan, hhuuuuuuuuuu! Hahaha ini enggak bisa kita hindarin sih. Baik itu dari segi sepeda nya atau orang nya sendiri, eheheheh.

Boleh ceritakan bagaimana  pengalaman kuliner teman-teman di Sulawesi sana? 

Menurut kami, orang-orang di Sulawesi sangat bangga sekali dengan kuliner lokal yang dia punya. Contoh di setiap daerah itu selalu ada Coto Makassar dan itu gampang sekali. Coba kami di Jakarta, untuk nyari Kuliner Soto Betawi sekarang udah mulai sulit hihi.

Selain bersepeda, kegiatan apa saja yang dilakukan oleh tim Jangandiamterus Backpacker?

Diperjalanan kami menjalankan proyek kebahagiaan yaitu Mendongeng, FoodNotBombs, Street Feeding Animals, Kapter keliling dengan mencukur rambut untuk anak-anak desa atau warga sekitar, membuka stand kopi dan membuat PelanTapiBarbeku di beberapa tempat atau komunitas.

Dari perjalanan ini, apa yang teman-teman cari atau dapatkan? Boleh kasih saran atau pesan untuk pembaca yang ingin memulai gowes seperti teman-teman?

Di perjalanan ini kami mencari ilmu. Hal-hal yang belum kami lihat dan rasain. Ya salah satu nya itu, kami ingin belajar tentang Arsitektur, Kopi dan Kuliner yang ada di Sulawesi.

Dari sependek pengalaman dan pengetahuan kami untuk hal yang satu ini adalah tetep terus yakin. Jangan menunggu ketimbang berpikir. Pada akhinya, mulai aja dulu hihi. Don’t think just go. Biarkan semesta yang mengejutkan dengan caranya sendiri.

Dari segi jarak, sungguh jauh sekali teman-teman gowes. Disela perjalanan, bagaimana kesehatan fisik teman semua? 

Alhamdulillah sehat. Kecuali ketika kami sampai Manado, titik akhir. Kami tidak enak badan karena pada saat kami gowes itu terik matahari yang kayanya mataharinya ada dua terus enggak lama dihajar hujan. Jadi kami goyang. Uuuu meriang gitu.

Oh Iya, bagaimana teman-teman sabar dalam menikmati proses apalagi menghadapi tanjakan dan cuaca panas? 

HAHAHAHAHAH Rasanya mau banting sepeda buang ke Laut. Tapi lagi-lagi, kami harus sabar karena kami punya tujuan. Kami harus komitmen penuh untuk ini. Cara ngatasinnya adalah dengan berkhayal seolah-olah ada es kelapa didepan atau Coto Makassar hihih.

Terimakasih atas waktunya. Bisakah teman-teman di sini, masing-masing menyimpulkan perjalanan pelan tapi gowes kemarin.

Sama-sama. Pelan Tapi Gowes sudah berakhir tapi bukan yang akhir. Perjalanan ini mengenai banyak hal. Segala sesuatunya ada diantaranya,  ketakutan itu enggak akan memberikan apa-apa, keberanian itulah yang memberikan kejutan hidup. Ada banyak rasa yang tercipta. Ada banyak ilmu yang terserap. Kami berharap ada PelanTapiGowessemester 2.

Semoga cerita perjalanan di atas bisa memberi inspirasi untuk jangan diam dan tetap #Pulsitive yakni melakukan kegiatan yang positif di tengah suasana yang kurang berkenan. Dari perjalanan di atas, kita tahu bahwa ketika sudah berencana, jangan terlalu berpikir panjang tapi langsung dikerjakan. Jangan lupa, selalu berani dan menikmati proses dalam setiap perjalanan diri.

 

 

Leave a comment

All comments are moderated before being published