The New Normal Guide

THE NEW NORMAL, ATAU ABNORMAL?

Menerima perbedaan dan membentuk sebuah kebiasaan baru adalah jawaban untuk menghadapi The New Normal. The New Normal adalah sebuah tatanan baru yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia selama belum ditemukannya vaksin untuk Corona. The New Normal di Indonesia yaitu berkenaan cara hidup masyarakat yang baru agar mampu “berdamai” dengan Corona melalui adaptasi gaya hidup yang bersih dan sehat.

Dalam laman tempo.co, Dr. Hans Henri P.Kluge Direktur Regional WHO untuk Eropa memberikan panduan bagi negara eropa yang akan menerapkan The New Normal. Syarat utama yang harus terpenuhi untuk menerapkan The New Normal yaitu negara harus memastikan keadaan dan terbukti bahwa penyebaran Covid-19 sudah dikendalikan.  Lalu, berkaca pada negara-negara eropa dalam menyambut The New Normal, Indonesia sudahkah demikian?

Sayangnya, bisa dikatakan, Indonesia belum siap menyambut The New Normal jika melihat frekuensi kurva penyebaran yang masih belum terkendali. Selama artikel ini ditulis, kabar terbarukan Covid-19 menurut kompas.com, yakni positif Covid-19 bertambah 464 orang dan menjadi 38.277 kasus di Indonesia. Sayangnya, The New Normal di Indonesia sudah mulai diterapkan, namun penyebaran kasus belum dikendalikan.

MASYARAKAT: LEBIH PINTAR DENGAN AMBIL PERAN

Oleh karena itu, The New Normal menuntut masyarakat untuk lebih pintar. Masyarakat harus sadar bahwa The New Normal Indonesia bukan bebas beraktivitas, tapi berdampingan dengan virus setiap saat. Oleh karena itu, masyarakat harus lebih sadar bahwa Corona masih ada, dan siapa saja bisa kena.

Perlu adanya edukasi mayarakat mengenai bagaimana cara penerapan The New Normal yang aman. Masyarakat harus ikut andil karena penerapan new normal ini akan mencabut peraturan sebelumnya, yakni Pembatasan Sosial Berkala Besar (PSBB). Maka dari itu, yang terbiasa terbatas akan bebas. Sehingga, jangan sampai The New Normal malah menjadikan kasus penyebaran menjadi susah dikendalikan.

JADI, CORONA KAPAN SELESAINYA?

Menjadi pertanyaan umum, jadi kapan selesai? Kapan bisa seperti biasa berkegiatan, bekerja, sekolah, dan bepergian? Menyambut The New Normal, regulasi sedang dipersiapkan pemerintah agar semua aktivitas bisa kembali berjalan seperti biasa, dan semua sektor kembali pulih dan berjalan seperti semula.

Lalu kapan Corona selesai? Sampai sekarang, vaksin Corona belum ditemukan, sembari menuggu itu, masyarakat harus mampu “berdampingan”. Sayangnya, berdampingan dengan virus tidak bisa ditebak, apakah virus menguat, apakah imun kita akan semakin hebat? Jadi, tidak ada jawaban yang pasti kapan Corona selesai. Tapi, yang pasti, hidup sudah berbeda dan menuntut kebiasaan untuk lebih bersih dan sehat. 

DON’T BE DEPRESSED, KELOLA STRESS

Dengan mendadak datang tanpa persiapan, Corona seolah-olah langsung knock down berbagai sektor dan membuat banyak manusia stress karenanya. Bisnis berhenti, pekerja dirumahkan, dan banyak regulasi yang belum jelas karena keadaan yang mendadak. Belum tuntas penanganan Corona, kini Indonesia menjalankan The New Normal seperti negara lainnya. Apakah keadaan The new normal yang dikebut (baca: di Indonesia), keadaan tersebut mampu menghilangkan stress? Tentu tidak.

Stress saat Corona menjad hal wajar. Hal ini merupakan respon alamiah ketika badan kita merasa ada masalah yang mengancam. Menjadi  berkeringat, nerves, atau mules sebagai bentuk tameng dalam melihat sebuah bahaya. Yang penting, bisa menghindari bahwa stress tersebut tidak berujung menyakiti diri sendiri.

Agar stress tidak mempengaruhi kesehatan mental, dalam laman thefutureecommerce.com, ada 8 tahap untuk mengendalikan stress dalam dunia profesional.

  1. Tidak berbicara dari sisi negatif

Berbicara dari sisi negatif hanya akan membuat lebih depresi karena hanya akan berfokus pada kegagalan dibandingkan proses yang menghasilkan. Oleh karena itu, bisa mulai rubah cara berdialog. Misalnya, dibanding mengatakan saya tidak akan bisa menyelesaikan tugas ini, lebih baik mengatakan saya akan memberi waktu lebih untuk diri saya agar laporan ini selesai.

  1. Mengakui bahwa perubahan yang terpaksa terkadang bisa menjadi hal baik

Perubahan bisa memicu kreativitas, oleh karena itu perlunya menyimpan energi dengan baik dan menjaga kesehatan, agar mampu mendapat perspektif baru terhadap perubahan.

  1. Olah apa yang kamu pelajari

Jangan berpikir “tidak siap”, pelajari kemampuan, kemudian rencanakan. Mulailah dengan mengidentifikasi kekuatan, lalu memulainya.

  1. Akui bahwa bisnismu memang belum sempurna

Bagi yang mempunyai bisnis, kamu perlu menengok histori dari perjalanan bisnis, dan berani menganggap bahwa bisnis yang berjalan baik belum  tentu sempurna, sehingga bisa mau menerima berfokus kembali pada adaptasi kondisi baru.

  1. Berdamai dengan masa sulit

Sebelum masa sulit ini, kamu telah memiliki kemampuan. Lalu, beberapa bulan terakhir saat pandemi adalah proses menemukan  skill baru. Dengan ini, kamu bisa memulai dari awal kembali dan buat rencana baru untuk lebih baik ke depannya.

  1. Jangan terburu buru

Beradaptasi dengan kehilangan, lalu memulai dari awal. Bertahaplah dalam memulai, karena proses ini adalah marathon yang panjang, bukan sprint yang siapa cepat dia menang. Mulai lagi brainstorming dengan teman atau mentor, dan mulai ambil challenge untuk bisa mencapai tujuan dengan nyaman.

  1. Ingat, kamu tak sendiri

Berkomunikasilah dengan teman atau rekan kerja, dan ingat bahwa efek Covid-19 tidak dirasakan sendirian, tapi semua orang. Meski seolah-olah hanya diri sendiri merasa tidak bisa move on, namun semua orang juga mengalami kendala tersebut secara berasamaan. Menghidupkan kembali komunikasi berarti menghidupkan kembali kesempatan untuk memikul beban dan kesempatan bersama.

  1. Cari hal postif saja

Kamu sudah melewati hari buruk dan bisa bertahan sampai saat ini, menandakan kamu adalah pribadi yang kuat.

CORONA (BAHKAN) ADA DI DALAM KAMAR, AYO UBAH KEBIASAAN!

Meyikapi The New Normal sesuai saran WHO yang dimuat dalam laman halodoc, yakni  dengan mulai membentuk kebiasaan baru dalam melakukan aktivitas harian. Cara sederhana membentuk kebiasaan tersebut yakni,

  1. Mengenakan masker

Masker sudah menjadi kebutuhan setiap saat untuk beragam aktivitas. Di setiap lingkungan mempunyai regulasi yang berbeda, yakni harus memakai masker kain atau masker jenis medis. Selain itu, jarak rekan dalam lingkungan kerja juga ditata kembali untuk menghindari  penyebaran virus dengan minimal jarak 1 meter.

  1. Membatasi interaksi sosial di tempat umum

Hindari kerumunan saat di sekolah, mall, supermarket, restoran, dll. Berbagai negara saat ini sedang mempersiapkan regulasi baru dan begitu juga Indonesia yang menerapkan The New Normal dimulai pada sektor ekonomi secara bertahap di tanggal 1 Juni 2020.

  1. Hidup bersih

Gaya hidup sehat serta bersih sudah mulai dilakukan semenjak pandemi Corona menyebar, dan menjadi keharusan dalam The New Normal. Yang biasanya tidak cuci tangan setelah datang tempat kerja, biasakan untuk langsung membersihkan tangan dan memakai masker, serta menjaga lingkungan kerja tetap bersih untuk meminimalisir penyebaran.

THE NEW NORMAL BUKAN LEBIH BEBAS, TAPI LEBIH KETAT

The New Normal seakan membuat masyarakat lega karena bisa mulai beraktivitas seperti biasa. Sayangnya, pemikiran tersebut tidak bisa diterapkan di Indonesia. The New Normal di Indonesia masih belum sempurna karena akan dilakukan di berbagai daerah saja. Selain itu, penetapn The New Normal masih mengesampingkan pandemi yang masih belum dikendalikan, sehingga bisa dibilang The New Normal yang dipaksakan.

Untuk itu, selain mengikuti arahan pemerintah, selebihnya lebih mawas diri untuk menjaga kesehatan, kebersihan lingkungan, serta membentuk kebiasaan. Karena siapa lagi yang bukan menjaga kesehatan diri, selain diri kita sendiri?

Leave a comment

All comments are moderated before being published