Bersepeda Cimahi-Sabang, Kampanyekan Isu Lingkungan

Di Bulan Oktober 2020, tim StayCool disapa oleh satu anggota Zero Waste Gowes yang berkeliling Pulau Sumatera menggunakan sepeda selama 7 bulan sampai akhirnya tiba kembali di Pulau Jawa pada bulan Mei 2021. Sebelum itu, Rafli Purnama atau yang sering disapa Rafli, berkabar bahwa ia dan satu rekannya yakni Maia Lan yang berasal dari Spanyol akan melakukan perjalanan dengan membawa isu lingkungan khususnya sampah yakni untuk bisa bijak mengelola sampah melalui Zero Waste Gowes. Kampanye Zero Waste yang dilakukan Rafli dan Maia, mereka terapkan selama  perjalanan mereka berkeliling Sumatera. Tentu saja, membuat tim StayCool takjub dan menyambut hangat dengan mendukung Rafli dan Maia dalam perjalanannya. 

Selama perjalanan mereka, mereka menyuguhkan story mengenai bagaimana mereke megelola sampah mereka dan meminimalisir hasil sampah selama perjalanan yang bisa kita pantau melalui media sosial mereka. Tak lupa juga mereka menyebut tim StayCool pada Instagram StayCool sehingga kami bisa melihat bagaimana perjalanan dan juga pemandangan yang disuguhkan di setiap kota di Sumatera oleh mereka berdua.

Dari perjalanan panjang ini, akan lebih menarik lagi jika kita bisa mendapatkan cerita langsung dari mereka berdua. Oleh karena itu, StayCool sengaja meminta mereka untuk memberikan waktu mereka di sela perjalanan untuk bercerita mengenai perjalanan mereka berdua yang bisa kamu simak selengkapnya pada tulisan berikut. 

Halo Kak Rafli, boleh kenalkan diri kak rafli.

Oke jadi perkenalkan nama saya Rafli Purnama, berasal dari Cimahi Jawa Barat, kesibukan sehari-hari travelling dan itu sudah menjadi kegiatan selama ini.

Banyak orang yang penasaran deh kak, kok bisa sih ada ide buat Zero Waste Gowes dan kapan sih ide ini tercetus?

Oh iya, yang pertama, kenapa bisa gowes sebenernya ini ideku pertama sejak aku travelling pertama ke India dan ke malaysia. Pada saat itu bertemu kawan-kawan di berbagai negara yang gowes juga dari Eropa menuju Asia. Saat itu aku timbul rasa penasaran gimana sih rasanya perjalanan gowes,  hingga akhirnya mikir rencana setelah pulang ke Indonesia untuk keliling Indonesia dan keliling dunia. 

Nah untuk tercetus Zero Waste Gowes tuh berdua, mulai di bulan agustus 2020 saat itu Maia sedang main ke Jawa Barat dan singgah di tempatku lalu kita sharing dan ngobrol perjalanan kita masing-masing hingga muncul ide berkeliling ke Sumatera berdua dengan tema Zero Waste Gowes. Seperti itu, singkatnya.

Bisa dikatakan ini adalah cara kak Rafli mengampanyekan isu lingkungan, namun ada ga sih kasus atau isu yang sangat memberi efek secara personal, sehingga kak Rafli butuh untuk mengkampanyekan menjaga lingkungan?

Yang pertama emang karena kita suka travelling dan kegiatan alam. Nah kan kita sering main ke alam yang asalnya indah, kayak air terjun tertinggi atau terluas itu menjadi kurang bagus karena banyaknya sampah. Jadi dimulai dari keresahan kita masing masing, gimana kalau kita ga usah bawa plastik aja ke alam gitu. Kalo bisa kita kurangi plastik agar tidak banyak sampah di alam tersebut. Jadi kita kampanyekan, karena adanya keresehan dari diri sendiri.

Perjalan ini bahkan sudah dua bulan lebih kan ya? Dimulai dari kapan dan dimana sih kak, dan sekarang sampai wawancara ini, kak Rafli sedang berada di daerah mana?

Iya betul, perjalanan ini bahkan sekarang sudah masuk  bulan ke 7 dimulai dari oktober 2020, dimulai dari kota Cimahi menuju ke Jogja. Baru di Jogja gowes berdua dengan Maia untuk mengelilingi Pulau Sumatera dengan tujuan awal Sabang dan pulang kembali ke Cimahi. Untuk posisi sekarang wawancara ini, kita sudah di Provinsi Bengkulu dan Kota Bengkulu, dan akan stay beberapa hari untuk Lebaran di sini.

Lalu, persiapan perjalanan ini bagaimana? Dari segi fisik, perencanaan, logistik, atau perizinan, bisa dijelaskan.

Yang pertama, karena kita tahu kita akan melakukan gowes setiap hari dan ini adalah perjalanan dengan sepeda maka tentu saja melatih fisik kita kembali dengan olahraga lari, bersepeda, berenang dll, jadi kita membiasakan diri untuk berolahraga setiap hari. Lalu, jalurnya kita obrolin masing-masing sebelum melakukan perjalanan. Yakni, jalurnya lewat mana yang enak, dan cari tahu di website atau sosial media. Untuk logistik, karena Sumatera banyak pemukiman maka kita tidak membawa banyak logistik. Kadang kita beli di jalan dan makanya di warung makan. Kemudian, untuk perizinan tidak ada kecuali kepada keluarga masing-masing.

Gowes ini kan gak hanya tentang fisik, tapi juga mental. Pernah down ga ka, misalnya karena tiba-tiba sakit saat di perjalanan? Oh iya, apakah rutin melakukan cek kesehatan?

Kalau untuk down aku sendiri nggak sih, karena ini adalah yang aku pengin jadi aku tahu apapun yang aku lewati jadi mau ga mau harus aku terima. Manis pahit harus ditelan mentah mentah, kalau diperjalanan paling aku kena flu aja jadi tak bermasalah di perjalanan, jadi cukup tidur aja. Untuk cek kesehatan tidak rutin atau bahkan tidak pernah.

Dalam perjalanan, pernah ada halangan, misalnya ada “kejahatan” atau kendala? Apalagi karena berdua gowes, kadang ada rasa takut ga sih ka?

Kadang ada rasa takut sih. Tapi karena kita awalnya melakukan perjalanan sendiri lalu sekarang berdua, jadi hal negatif seperti itu kurang dipikirkan dan selalu positif thinking. Jadi rasa takut yang kita miliki pun kurang. Dan tak begitu takut meski naik gunung dan gowes berdua karena sudah terbiasa melakukan perjalanan sendiri.

Tips dong untuk bisa menikmati proses perjalanan yang kak Rafli lakukan... 

Enjoy aja, nikmati perjalanan dan jangan terburu buru. Yang penting kita punya waktu. Kalau bisa, kita main ke alam indah yang sepi dan bertemu warga setempat yang ramah, dan mencari tahu lokasi dan daerah tersebut.

Cerita dong tentang kisah menarik yang kak Rafli rasakan saat singgah di setiap kota dengan budaya berbedanya...

Kita bisa merasakan kuliner yang ada di setiap daerah di Sumatera dan aku baru tahu bahwa bahasa di Indonesia banyak banget. Bahkan di Sumatera sendiri dan setiap provinsi berbeda, punya bahasa masing masing. Seperti di satu provinsi memiliki dua bahasa, dan itu menarik sih kalau kita bisa pelajari setiap bahasanya. 

Kak, saat gowes dengan jalur yang panjang dan aspal panas, pernah ga sih berpikir untuk menyerah aja? Nah pada saat kayak gini, apa sih pelajaran penting yang kak Rafli dapatkan?

Kita ga langsung menyerah karena kita tahu kalau cuaca panas ga selalu panas. Kita bisa istirahat sebentar, menepi sebentar untuk bertedu,  abis itu kita lanjut lagi. Pelajarannya jangan cepat menyerah, kita rehat aja sebentar, nunggu cuaca aman, abis itu lanjut lagi. Intinya adalah sabar, kalau kita melakukan perjalanan panjang kuncinya adalah sabar dan bersyukur.

Pesan untuk teman StayCool yang ingin memulai bikepacker, saran dong ka dari segi persiapan atau keamanannya?

Untuk kalian yang mau bikepacker persiapkan diri masing-masing dari logistik, keuangan, dan pengetahuan tentang jalan yang akan dilalui. Kita bisa lihat di sosial media, di website, google dan bisa tanya-tanya juga. Kalau bisa persiapkan diri dulu mental dan fisik. 

Dari kak Rafli sendiri, ada yang ingin disampaikan? Oh iya, apa ig , tiktok, atau media sosial kak Rafli biar kami bisa kepoin perjalanan kerennya kak rafli.

Kalau aku sendiri, kalau kalian emang ingin melakukan perjalanan jauh atau dekat yang penting jangan terlalu banyak mikir, mulai gerak aja dulu, dan cari tahu jawabannya di jalan yang akan kita lalui. Kawan-kawan bisa kepoin medias soial aku, untuk instagramnya bisa @purnamarafli_ dan tiktok hanya_backpackers.

Dalam setiap perjalanan memang selalu ada pesan dan motivasi tersendiri, seperti perjalanan Rafli dalam bersepeda keliling Sumatera dengan bepegang pada kunci Sabar. Semangat ini juga dipegang erat StayCool melalui motonya yakni Loyal To Process. Baik perjalanan atau kesuksesan memang harus dinikmati setiap prosesnya, jangan terburu-buru sehingga perjalanan tak bisa dinikmati setiap tahapnya. 

Perjalanan Zero Waste Gowes ini dilakukan Rafli bersama rekannya Maia Lan, yakni seorang petualang wanita yang berasal dari Spanyol. Untuk tahu kisah bagaimana mereka bisa bertualang bersama, dan juga bagaimana seorang Maia bisa memutuskan bikepacking ke Sumatera, simak selengkapnya di artikel berikut. 

 

 

 

Leave a comment

All comments are moderated before being published