PULSITIVE: Tetap Bisa Meski Tidak Bersama

 

Ketika di rumah saja, pikiran sudah melanglang buana dan membuat daftar rencana. Pergi ke cafe bersama teman, berolahraga di luar ruangan, berkomunikasi dan berjabat tangan, semua sentuhan keakraban sudah direncanakan. Namun, tidak semua berani keluar rumah dan bersosialisasi pada pasca lockdown ini. Beberapa orang disekitar kita, masih memiliki ketakutan untuk memulai beraktivitas kembali seperti biasa, seperti sekedar berolahraga di luar ruangan atau hanya sekedar di luar rumah. Ketakutan untuk sekadar keluar karena virus ini bisa disebut dengan coronaphobia.

Coronaphobia yakni istilah yang dimuat di urbandicitionary.com yang merujuk seseorang yang menghindari transportasi publik, menggunakan masker, dan menghindari tempat publik. Kekhawatiran ini tidak hanya di Indonesia saja, menurut riset theconversation terhadap 5000 orang dewasa di Australia, 1 dari 4 orang dewasa cemas dan sangat cemas akan Corona. Lalu, setengahnya menyatakan bahwa mereka cemas dengan orang terdekat mereka. Memang, selain kesehatan raga, kesehatan jiwa pada masa ini tidak bisa dinomor duakan. Apalagi perihal kekhawatiran dan kecemasan.

IMUNITAS ATAU MENTALITAS?

Meski Indonesia sudah pada tahap normal kembali dan suasana sekitar sudah berjalan dengan biasa, namun kecemasan akan Corona tidak serta merta langsung hilang setelah selesai Lockdown dan PSBB. Sebagai teman atau sebagai keluarga perlu sadar, apakah orang disekitar kita mengalami kecemasan akan perihal Corona. Pasalnya, hasil survei yang dimuat dalam laman tirto.id, perihal kesehatan mental akibat pandemi COVID-19 menyatakan bahwa 64,3% dari 1.522 Orang Cemas & Depresi karena COVID-19. Survei tersebut memeriksa tiga masalah psikologis yaitu cemas, depresi, dan trauma psikologis.

Perihal kecemasan tidak hanya di Indonesia saja, lonjakan kecemasan dirasakan di Amerika. Dalam laman forbes.com, Centers for Disease Control Household Pulse Survey menyatakan bahwa 30% orang mempunyai gejala anxiety dan 24% mengalami depresi. Presentasi ini meningkat dari hasil survey untuk bulan Januari-Juni yakni 9.2% orang dewasa memiliki gejala anxiety, dan 6.6% memiliki gejala depresi. 

Kekhawatiran yang berlebih, kecemasan, dan semua rasa takut akan masa depan sedang banyak dirasakan. Jika kamu salah satunya, kamu tidak sendirian. Jangan berlarut dan merasa sepi, karena hal baik akan kembali menjemputmu lagi.

BEGIN AGAIN

Mencari tahu dan beradaptasi dengan kondisi saat ini adalah hal yang tepat untuk dilakukan. Melalui perubahan gaya hidup baru yang lebih bersih dan sehat, serta tak perlu merasa sendiri meski sendirian. Semuanya bisa dilakukan meski tidak bisa bersama. Jadi, terus berkegiatan dan berpikir positif karena kondisi ini bukan akhir segalanya. Setidaknya, hal buruk sudah dilalui dan mental kamu sudah kuat untuk menghadapi masa depan.

Secara perlahan, mulai ‘bergerak’ agar hidup bisa lebih semangat. Mulai lakukan hal kecil, berolahraga atau berjemur di depan rumah, kembali membuat konten, atau mengerjakan tugas rumah. Melalui hal kecil tersebut, kekhawatiran yang terjadi bisa kamu kendalikan. 

MY PULSITIVE, AND HOW ABOUT YOU?

Semakin terlarut dalam kekhawatiran, terkadang menguras energi dan menjadikan lebih lelah untuk melakukan kegiatan. Menghabiskan waktu tiap hari tanpa melakukan apapun dan hanya menunggu keadaan kembali pulih, juga sama sama melelahkan. Meski dalam keadaan ini tidak bisa bersama-sama, namun bukan berarti tidak bisa. 

Pulsitive adalah cara kami untuk mendukung dan mengajak semua orang bahwa “meski sendiri, bukan berarti sepi. Dan meski tidak bersama, bukan berarti tidak bisa”. Melalui esensi pulse yakni nadi dan positif yakni hal yang baik atau positif, semoga pesan ini disampaikan untuk membuat semua orang mampu menyalurkan hal positif dalam aliran darah sehingga nadi berdetak dengan semangat lagi.

Leave a comment

All comments are moderated before being published